Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 31 Januari 2024 di sawah Kelompok Tani Lubuak Agung Nagari Salido dan dihadiri oleh PPL Salido Okta Novia, S.St , PHP, dan ketua kelompok tani Lubuak Agung. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengamati serangan hama Pengerek Batang dan hama Tikus pada kelompom tani Lubuak Agung. Penggerek batang padi merupakan hama tanaman padi yang termasuk ordo lepidoptera dari famili Noctuidae dan Pyralidae. Serangga ini umumnya tertarik pada lampu pada malam hari, berbentuk kupu-kupu kecil yang disebut ngengat. Ada 4 (empat) jenis hama penggerek batang padi di Indonesia : (1) Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas) (2) Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) (3) Penggerek batang padi jingga (Sesamia inferens) (4) Penggerek batang padi bergaris (Chilo supresalis). Gejala serangan hama penggerek tersebut sama, yaitu pada fase vegetatif yang disebut sundep (deadhearts) dengan gejala titik tumbuh tanaman muda mati. Gejala serangan penggerek pada fase generatif disebut beluk (whiteheads) dengan gejala malai mati dengan bulir hampa yang kelihatan berwarna putih. Gejala sundep sudah kelihatan sejak 4 hari setelah larva penggerek masuk. Larva penggerek selalu keluar masuk batang padi, sehingga satu ekor larva sampai menjadi ngengat dapat menghabiskan 6-15 batang padi. Hama tikus (Rattus argentiventer) merupakan hama yang paling terkenal menyebabkan banyak kerusakan di lahan pertanian hingga menyebabkan kerugian yang besar. Apabila OPT pada umumnya menyerang secara spesifik misalnya menyerang saat tanaman masih belum menghasilkan atau tanaman yang usia masih muda. Tikus menyerang tanaman pada semua fase pertumbuhannya dan lebih invasif ketika menyerang pada fase generatif. Hama tikus tidak menyukai tempat yang luas dan terbuka karena keberadaannya mengundang predator dan juga manusia. Habitat tikus berada di lubang yang digali di sekitar rerumputan yang jaraknya cukup dekat dengan saluran air utama, pengairan sawah, kebun desa, dan di daerah selain lahan/ladang yang tertutup. Biasanya aktivitas hama ini sering dilakukan pada malam hari dan puncak aktivitasnya terjadi pada senja dan subuh. Pada siang hari, tikus biasanya ditemukan di antara vegetasi, gulma, dan tanaman lainnya yang terdapat pada satu ekoistem lahan. Hama tikus menyerang tanaman dengan cara memotong atau mencabut tanaman yang baru ditanam. Pada fase pembenihan, hama tikus biasanya memotong benih dengan cara memakan tunas tanaman yang sedang berkembang. Selain itu, gejala serangan hama tikus yang dapat dilihat antara lain: Kerusakan pada batang, Benih hilang, dan Kematangan benih tertunda Pengendalian hama tikus secara terpadu biasanya dilakukan dengan cara: 1. Membuat bentangan pagar plastik dengan tujuan mencegah tikus masuk ke area lahan pertanian. 2. Dilakukan secara manual, masyarakat menyebutnya dengan gepyokan massal. Gepyokan adalah aktivitas berburu tikus di lahan pertanian secara bersama-sama 3. Pestisida juga digunakan apabila serangan tikus terbilang mengkhawatirkan. 4. Melakukan sanitasi di sekitar lahan pertanian agar tikus tidak bisa membuat sarangnya. 5. Mengatur pola tanam – terutama pada sawah irigasi– dengan cara menanam tanaman secara bergantian, misalnya padi-padi-palawija, padi-padi-beda. 6. Penanaman dilakukan secara serentak pada satu petak lahan untuk mengurangi rusaknya tanaman. 7. Mengatur jarak antar tanaman tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang dengan pola tanam jajar legowo. Pengaturan jarak bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang tidak disukai oleh tikus. 8. Menggunakan musuh alami seperti burung hantu, ular, anjing, dan kucing. 9. Memasang perangkap TBS (Trap Barrier System) dan LTBS pada lahan persemaian tanaman. Perangkap TBS berukuran 20x 20 m dan dipagari dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan bambu setiap jarak 1 m. Perangkap TBS bekerja dengan cara menarik tikus dari lahan menuju luar lahan. (Korespondensi by Herly Wulandari)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!