Pada Rabu, 27 September 2023, Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan bersama dengan tim Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat dan personil dari Moosa Farm melakukan kunjungan lapangan ke kecamatan Batang Kapas dalam rangka pelaksanaan Pengambilan sampel darah sapi pesisir. Tim Bidang Keswan dan Kesmavet yang diwakili oleh petugas paramedik veteriner Puskeswan Terpadu Painan, Sdr. Syaf Jonedi, S.Pt dan Sdr. Rendra Jasri, tim Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat diwakili oleh Sub Koordinator Pengendalian Penyakit Hewan, sdr. drh. Riko Azrenra dan Fungsional Medik Veteriner sdr. drh. Divo Jondriatno dan bu Rezly dari Moosa Farm. Adapun jumlah sampel darah sapi pesisir yang diambil adalah sebanyak 15 sampel. Moosa Farm yang beralamat di Jalan Rawang Lubuk Selasih Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok merupakan cabang PT. Moosa Genetika Farmindo Jakarta. Kegiatan ini bertopik *Project Sapi Royal Pesisir*, adapun penjelasan terkait proyek ini adalah sebagai berikut:
I. Pendahuluan Pengembangan sapi pesisir dihadapkan pada berbagai tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak untuk mempertahankan kelestariannya.
Tantangan tersebut meliputi:
1. Penurunan populasi yang tajam
2. Penurunan produktivitas ternak akibat terbatasnya sumber daya alam
3. Peternak beralih memelihara sapi silangan
Sapi Pesisir memiliki tubuh berukuran kecil dan banyak dipelihara oleh petani-ternak di Sumatera Barat, meskipun ukuran tubuhnya kecil, persentase karkas sapi Pesisir mencapai 50,6%. Kemampuan mengkonversi pakan berserat menjadi daging membuat ternak ini berpotensi sebagai penghasil daging.
Selain keterbatasan lahan sebagai sumber pakan, pengembangan sapi Pesisir juga dihadapkan pada penurunan mutu genetik. Bobot badan dan ukuran tubuh sapi yang ada sekarang jauh lebih kecil dibandingkan sapi impor. Meskipun berpenampilan kecil dan bobot badan lebih rendah dibanding sapi pada umumnya, namun sapi pesisir sangat produktif dan efisien. Hal ini diindikasikan dengan tingkat kelahiran tinggi dan kemampuan beradaptasi yang baik dengan lingkungan.
Kondisi fenotip sapi pesisir saat ini yang kurang menarik maka peminat sapi pesisir menurun drastis, bahkan sapi tersebut hanya laku saat qurban. Selain fenotip, faktor yang harus diperhatikan selanjutnya adalah genotip/genetik. Informasi genetik dapat menentukan potensi dari sapi pesisir yang mempunyai fenotip bertubuh kecil tetapi memiliki potensi genetik bertubuh besar. Hal ini disebabkan karena program pemurnian galursapi pesisir belum mendapatkan perhatian dari aspek genetik ini.
Dalam menyikapi tantangan tersebut, diperlukan menyusun strategi dan kebijakan yang komprehensif, sistematis, terintegrasi secara vertikal maupun horizontal, berdaya saing, dan berkelanjutan. Pengembangan sapi pesisir dapat dilakukan melalui pendekatan yang berkelanjutan, modern, dan profesional dengan memanfaatkan inovasi teknologi genomik dan reproduksi.
II. Perbaikan Genetik Sapi Pesisir dan Strateginya
Sapi Pesisir merupakan sapi lokal yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian No.2908/Kpts/OT.140/6/2011 sebagai Plasma Nutfah Sapi Lokal Sumatera Barat (Hendri et al., 2016), membutuhkan dorongan untuk menghasilkan “Sapi Royal Pesisir” yang dapat memberi kontribusi terhadap suplai daging baik untuk kebutuhan lokal maupun daging premium berkualitas ekspor.
Sapi pesisir memiliki ciri khas yang tidak dipunyai oleh sapi dari bangsa lainnya dan merupakan sumber daya genetik ternak Indonesia yang perlu dijaga dan dipelihara kelestariannya sehingga dapat memberikan manfaat dalam pemenuhan kebutuhan daging serta peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran peternak Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan melakukan perbaikan genetik.
Perkembangan teknologi analisa genetik saat ini sudah mampu memilih sifat-sifat produksi dengan akurasi tinggi dan cepat. Program seleksi dimulai dengan menganalisis fenotip yang dilanjutkan dengan analisa berdasarkan petanda genotip yang dilakukan dengan teknologi DNA _microarray_ .
Berdasarkan penelitian dan pengalaman di beberapa negara yang berhasil di program pembibitan sapi seperti Amerika Serikat, Brazil, Australia, Selandia Baru, teknologi ini sudah terbukti merupakan kunci utama dalam peningkatan kualitas genetik ternak sapi (Bhuiyanet al.,2021; Illumina, 2016; Qwabeet al., 2013; Singhetal., 2021).
Project ini akan dilakukan dalam tahapan sebagai berikut:
1. Penentuan tujuan dan sampel
2. Pengambilan sampel “ _pure breed_ ” sapi pesisir di Sumatera Barat sebanyak 4-5% dari populasi saat ini dengan menggunakan data fenotip dan genotip.
3. Analisa potensi genetik sapi pesisir berdasarkan empat lokasi pembudidayaan sapi Pesisir pada dataran tinggi (suhu rendah), dataran panas (suhu tinggi), intensif/semiintensif serta ekstensif.
4. Koleksi data fenotip meliputi data pertumbuhan, reproduksi, fitness, kesehatan, dan sifat ekonomis lainnya.
5. Melakukan analisa genotip multi marker pada sampel sapi yang terseleksi
6. Merumuskan strategi dan kebijakan pengembangan ternak sapi Pesisir berdasarkan mapping genetik untuk menghasilkan _elite_ _population_ sumber genetik Sapi Royal Pesisir.
III. Teknologi Analisa DNA PT. Moosa Genetika Farmindo, adalah perusahaan bioteknologi berbasis teknologi genomik dan reproduksi ternak.
Saat ini PT. Moosa Genetika Farmindo tercatat sebagai pelopor analisa DNA pertama di Indonesia pada ternak dengan teknologi microarray. PT. Moosa Genetika Farmindo memiliki laboratorium yang canggih, dengan dukungan tenaga ahli reproduksi dan ahli genetik hewan berkualifikasi internasional.
IV. Skenario _Breeding_ Sapi Pesisir
Populasi terpilih sapi pesisir hasil pemetaan menggunakan teknologi genomik, selanjutnya akan dipilih menjadi _foundation stok_ yang merupakan _nucleus_ atau sapi populasi elit. Dari populasi elit ini akan diberikan perlakukan pemeliharaan yang seragam dan terkontrol dalam arti dikondisikan pada area khusus di bawah perhatian, pengelolaan dan regulasi dari pemerintah.
Populasi elit ini akan dikembangkan menjadi sumber bibit dalam bentuk semen beku atau embrio yang selanjutnya dikembangkan populasinya secara terbatas menjadi _commercial stock_ oleh perusahaan-perusahaan atau _Village Breeding_ _Center_ yang dikelola oleh peternakan rakyat.
Hasil dari pengembangan populasi yang terkontrol secara genetik dan pemeliharaan selanjutnya akan menghasilkan _final stock_ yang didesiminasikan ke peternak rakyat dan atau komersial. Kolaborasi antara teknologi genomik, reproduksi dan manajemen terbaik sesuai Standar Operasional Prosedur akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas sapi pesisir menjadi Royal Pesisir. (Sumber: artikel dari PT. Moosa Genetika Farmindo, Editor PPID Keswan dan Kesmavet: drh. Indosrizal, Fungsional Medik Veteriner Muda).
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!