Penyakit Orf merupakan penyakit viral (yang disebabkan oleh virus) utama yang menyerang ternak kambing dan dapat menular ke manusia (bersifat zoonosis). Di Indonesia, Kejadian penyakit orf pertama kali dilaporkan oleh Van Der Laan tahun 1914 yang menyerang pada kambing di Medan. Penyakit orf telah menyebar ke Jawa, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Bali, dan Papua. Data lain menyebutkan bahwa sebanyak 20 propinsi merupakan daerah tertular sampai tahun 1988. Agen penyebab penyakit orf adalah virus yang termasuk dalam kelompok parapoks dari keluarga virus poks. Virus ini sangat tahan terhadap kondisi lingkungan, di padang penggembalaan dan mampu bertahan hingga tahunan. Virus penyebab penyakit orf tahan terhadap pemanasan 50oC selama 30 menit dan juga tahan terhadap pembekuan dan pencairan tetapi tidak tahan terhadap kloroform. Penyakit orf ini menular dengan cepat dari ternak terinfeksi ke ternak yang sehat melalui kontak langsung. Penularan dapat juga terjadi akibat hewan yang peka mengkonsumsi pakan yang tercemar oleh keropeng bungkul prnyakit orf. Tingkat penularannya dapat mencapai 100%, sedangkan angka mortalitasnya relatif rendah, yaitu sekitar 2- 5,4%. Angka mortalitas pada kambing dapat mencapai 9,23% yang terjadi diakhir dan awal tahun. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa kejadian penyakit orf cenderung meningkat pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Pada kasus yang berat, mortalitas penyakit orf dapat mencapai 93% terutama pada ternak yang muda. Kelembaban udara yang tinggi dan kondisi stress juga dilaporkan sebagai pemicu timbulnya penyakit orf pada ternak. Gejala klinis yang menonjol adalah lesi yang berbentuk keropeng pada bibir. Awal infeksi akan terjadi bintik-bintik merah yang kemudian berubah menjadi vesikel dan pustula (pernanahan). Akhirnya lesi-lesi ini terlihat sebagai tonjolan berkerak (keropeng). Selain menyerang kulit sekitar mulut, lesi-lesi ini dapat juga menyebar ke seluruh muka seperti hidung dan gusi serta bagian tubuh lainnya yang tidak berambut atau berambut sedikit seperti ambing, sekitar mata, hidung, telinga, skrotum atau sekitar kaki. Pada kambing dan domba, gejala klinis penyakit orf akan muncul 1-3 hari pasca infeksi. Penyakit orf dapat berlangsung antara 3-4 minggu tergantung pada kondisi ternak. Kondisi ini akan menjadi lebih parah dan lebih lama apabila diikuti oleh infeksi sekunder. Beberapa bakteri yang berperan sebagai infeksi sekunder, yaitu Staphylococcus aureus, S. epidermis dan Corynebacterium pyogenes. Kekebalan pada induk yang terinfeksi penyakit orf relatif rendah sehingga anak yang dilahirkan masih memungkinkan untuk terjangkit penyakit orf. Ternak dengan gangguan kekebalan dilaporkan dapat menderita penyakit orf hingga berbulan-bulan. Ternak yang sembuh biasanya memiliki kekebalan selama setahun. Otovaksin dapat diproduksi di BALITVET untuk mengendalikan penyakit ini. Penanggulangan penyakit orf biasanya dengan pencegahan melalui vaksinasi terutama pada daerah endemis dan dilaksanakan secara regular. Pemberian salep pelunak dapat membantu agar kambing tetap dapat makan dan minum. Pakan yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk mempercepat terjadinya kesembuhan. Apabila keropeng terkelupas menjadi luka baru maka perlu diolesi dengan obat lokal, seperti salep penisilin yang dicampur dengan minyak kelapa. Pemberian antibiotika secara suntik dibutuhkan jika suhu tubuh ternak menjadi tinggi. Tindakan ini juga ditujukan untuk menghilangkan infeksi sekunder oleh bakteri. Ternak-ternak di daerah tertular seharusnya divaksinasi tetapi vaksinasi ternak di daerah bebas tidak dianjurkan. Ternak yang akan didatangkan ke daerah belum tertular harus telahdi vaksinasi orf. Pengobatan hanya ditujukan untuk mencegah infeksi sekunder dengan memberikan salep antibiotika seperti eritromisin dan oksitetrasiklin.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!