BPP AIRPURA. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Airpura mengadakan Pengendalian Organisme Penganggu Tanaman (OPT) blast pada Tanaman padi di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) Tluk Kualo Inderapura, di Kelompok Tani Pematang Lesung, Jumat 19 Mei 2023.
BPP Air Pura pada acara kegiatan gerakan pengendalian OPT blas di WKPP Tluk Kualo menjelaskan materi tentang, "Pengenalan PENYAKIT BLAS pada tanaman padi dan pengendaliannya." "Penyakit blas adalah penyakit bercak daun pada tanaman padi yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea dikenal juga dengan nama Pyricularia oryzae. Penyakit blas merupakan penyakit penting pada tanaman padi jika tidak tepat pengendalianya dapat menurunkan produksi 70% sd 80% bahkan menyebabkan puso pada varietas tertentu sehingga menjadi momok yang menakutkan bagi petani padi. Di Airpura) penyakit ini lebih populer di sebut dengan “Penyakit Patah Kuduak“, karena serangan pada pangkal malai mengakibatkan tangkai menjadi patah. Secara epidemologi, Penyakit Blas menginfeksi tanaman pada fase pertumbuhan, Stadia kritis tanaman terjadi mulai umur 1 bulan anakan maksimum, bunting dan awal berbunga.
Pembentukan konidia selama 14 hari, puncaknya pada 3 – 8 hari setelah bercak muncul. Pembentukan spora pada kelembaban 89 – 90%. Spora dapat bertahan pada sisa jerami dan gabah ± 1 tahun dan miselia 3 tahun pada suhu kamar. Pyricularia oryzae menyerap nutrisi tanaman padi untuk memperbanyak diri dan mempertahankan hidup. Bila menyerang pada daun muda, menyebabkan proses pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati. Blas pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase pertumbuhan hingga fase anakan maksimum. Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Penggunaan fungisida pada fase vegetatif sangat dianjurkan guna menekan tingkat intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai malai (blas leher).
Teknik pengendalian dan pencegahannya yaitu penanaman varietas tahan, pembenaman jerami sakit sebagai kompos, pemakaian pupuk nitrogen secara optimal, untuk daerah serangan endemis paling tinggi 90 Kg N/Ha, penggunaan benih sehat/bermutu, perlakuan benih dengan fungisida (seed treatment) pada daerah endemis dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan padi (tanaman yang tidak menjadi inang). Untuk pengendalian secara kimiawi dengan dengan menggunakan fungisida Nordox 56 WP yang di fasilitasi bantuan Dinas pertanian Kabupaten Pesisir Selatan terlaksana dengan baik dan lancar.
Pimpinan BPP Airpura, Junnaidy mengajurkan kepada kelompok untuk penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya dilakukan 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik seperti saat ini yang terjadi nagari Tluk kualo Inderapura. (Korespondensi Junnaidy, edited by Pertanian Wisata Channel)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!