Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan
Populer: Berita Pengaduan PPID
Telepon (0756) 7464085
Email disperta@pesisirselatankab.go.id
Umum

Mendampingi Karantina Pertanian Sumbar Terkait Pemantauan HPHK

27 Sep 2024 14:25:31 WIB 17x dibaca
BIDANG KESWAN
Mendampingi  Karantina Pertanian Sumbar Terkait Pemantauan HPHK

Bidang Keswan dan Kesmavet pada Kamis, 26 September 2024, mendampingi tim Karantina Pertanian Sumbar terkait Pemantauan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) di nagari Batu Hampar Selatan dan nagari Barung-barung Belantai Selatan kecamatan Koto XI Tarusan. Bidang Keswan dan Kesmavet yang diwakili oleh fungsional medik veteriner, drh. Indosrizal dan diikuti oleh staf Keswan Charlly Charmini Arsih, S.Pt., M.Si. Sementara karantina pertanian dipimpin oleh drh. Handito Kurniawan dan diikuti oleh paramedik veteriner Karantina, salah satu nya sdr. Mitra Hadi. Pemantauan HPHK pada tahun ini, difokuskan pada surveilans dan screening kasus secara laboratorium terhadap Diare Ganas pada Sapi (Bovine Viral Diarrhea) atau disingkat BVD. Sebelum surveilans dan pemantauan dilakukan, tim Keswan menjambangi Kantor Puskeswan Tarusan, bertemu dengan Kepala Puskeswan, drh. Alriko Patrisman beserta beberapa staf paramedik, dan selanjutnya menuju kantor Camat Koto XI Tarusan, bertemu dengan Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, ibu Mia Parisda, SH. Pada kesempatan ini, tim Keswan menyampaikan tujuan dan maksud datang ke nagari yang menjadi target pelaksanaan surveilans. Informasi terkait BVD, merupakan penyakit viral yang infeksius pada sapi, ditandai dengan radang mulut (stomatitis) erosif yang akut, gastroenteritis,serta diare. Laju infeksi penyakit ini pada kebanyakan populasi sapi sangat tinggi, tetapi kejadian klinisnya rendah. Virus BVD bersifat teratogenik dan imunosupresif yang banyak didapat pada bentuk penyakit kronis. Penyakit ini terdiri dari 2 (dua) bentuk, bovine virus diare (BVD) dan mucosal disease (MD), yang secara klinis berbeda tapi penyebabnya sama. Diagnosa BVD secara klinik dan patologik anatomi tidak mudah ditetapkan, oleh karenanya diagnosa yang pasti dapat dilakukan dengan uji serologik dan isolasi virus dengan kultur jaringan. Virus diidentifikasi dengan uji virus netralisasi (VN) atau Fluorescene Antibody Technique (FAT) sedangkan diagnosa kawanan ternak dapat dilakukan dengan pasangan serum dengan Complement Fixation Test (CFT). Karantina pertanian Sumbar melakukan pemantauan HPHK terkait BVD dilatarbelakangi oleh nya temua kasus diare yang menurunkan produktivitas sapi potong di Sumatera Barat. Populasi ternak sapi yang dilakukan pemantauan berada di Kelompok Ternak di nagari Batu Hampar Selatan dan Barung-barung Belantai Selatan. Untuk tujuan koleksi serum dalam rangka uji CFT, sampelnya adalah darah segar yang diambil dari pembuluh darah vena jugularis eksterna sebanyak 5 mL per ekor. Sampel tanpa antikoagulan ini kemudian dibiarkan membeku pada suhu ruang. Serum darah akan muncul 4 -10 jam setelah sampel dikoleksi. Adapun jumlah sampel yang dapat dikoleksi dari 2 (dua) nagari ini adalah sebanyak 55 ekor/sampel, terdiri dari 35 sampel berasal dari nagari Batu Hampar Selatan dan 20 sampel dari nagari Barung-barung Belantai Selatan. Semoga dengan adanya kegiatan pemantauan HPHK dari tim Karantina Pertanian Sumbar ini dapat memberikan informasi terkait ada atau tidaknya penyakit Bovine Viral Diarrhea di Kabupaten Pesisir Selatan. (#ndz)

Berikan Reaksi Anda
Bagikan Berita
Kategori
Umum
0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar
Mohon masukkan nama Anda.
Mohon masukkan email yang valid.
Mohon tulis komentar Anda.