Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan
Populer: Berita Pengaduan PPID
Telepon (0756) 7464085
Email disperta@pesisirselatankab.go.id
Umum

OPTIMALKAN PERANAN PENYULUH PERTANIAN DI KECAMATAN RANAH PESISIR DENGAN LAKU SUSI

27 Jun 2024 23:34:10 WIB 11x dibaca
BPP RANAH PESISIR
OPTIMALKAN PERANAN PENYULUH PERTANIAN DI KECAMATAN RANAH PESISIR DENGAN LAKU SUSI
Padang Laban, 26 Juni 2024. Balai penyuluhan pertanian kecamatan Ranah Pesisir melaksanakan training di BPP ini merupakan salah satu tupoksi dari penyuluh pertanian. Sesuai dengan sistem penyuluhan pertanian yaitu Latihan, Kunjungan dan supervisi (LAKU SUSI) Sistem Latihan dan Kunjungan (LAKU) Penyuluh Pertanian merupakan pendekatan penyuluhan yang memadukan antara pelatihan bagi penyuluh sebagai upaya peningkatan kemampuan penyuluh dalam melaksanakan tugasnya, yang ditindaklanjuti dengan kunjungan kepada petani/kelompoktani dan dilakukan secara berjadwal. Laku, Latihan dimana penyuluh mendapatkan latihan secara kontinyu sebagai bahan penyuluhan. Dan Kunjungan maksudnya penyuluh secara terprogram melakukan kunjungan kepada pelaku agribisnis/petani sebagai sasaran penyuluhan. Sistem LAKU saat ini masih dirasakan cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (PSK) petani. Sistem Laku dilatarbelakangi karena petugas lapangan kurang terlatih, petani tidak mengikuti teknologi baru, dan kecenderungan tidak mengunjungi petani karena lebih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Sistem Laku dilaksanakan dengan menggunakan prinsip (1) keakraban,artinya terjalin hubungan yang akrab antara penyuluh pertanian dengtan petani/poktan, (2) keterpaduan, artinya keterpaduan antara pelaksanaan pelatihan penyuluh pertanian dengan kunjungan petani ataupun poktan, (3) faktual, artinya materi yang disampaikan merupakan kebutuhan petani/poktan dalam pengembangan usahataninya, (4) berkesinambungan, artinya pelaksanaan pelatihan penyuluh dan kunjungan kepadaa petani dilakukan secara terjadwal sesuai dengan rencana kerja penyuluh dan perencanaan poktan. Laku mampu meningkatkan motivasi penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugasnya dalam mendampingi dan membimbing petani sehingga dapat meningkatkan produksi, produktivitas dan pendapatannya. Laku dilaksanakan dengan langkah-langkah kunjungan sebagai berikut : 1. Mencari tahu tentang keadaan pertanian saat ini yang ada di desa tersebut 2. Perlu dicek dengan kenyataan yang ada di lapangan. 3. Identifikasi wilayah dengan berbagai metode agar data yang didapat lebih akurat. 4. Sistem laku dilaksanakan dengan memperhatikan programa yang disusun. Pelaksanaan kunjungan petani ke kelompoktani harus memperhatikan beberapa hal diantaranya (1) waktu kunjungan lapangan harus disesuaikan dengan kegiatan petani di lapangan, (2) jika ingin dilakukan secara berkelompok dapat disepakati bersama petani, dan (3) penetapan waktu penyuluhan akan tergantung dengan materi, metoda, dan media penyuluhan, keadaan dan situasi sasaran yang dituju, jenis kegiatan usahatani setempat, ketersediaan alat dan perlengkapan, serta mengikuti kegiatan masyarakat setempat. Keberhasilan sistem laku dapat diukur dengan adanya peningkatan produksi komoditas yang diprioritaskan. Keberhasilan ini dicapai dengan cara disebarkannya informasi murah dan sederhana kepada petani, dan meningkatnya semangat kerja bagi pengabdian penyuluh. Aspek positif atau keuntungan dari sistem latihan dan kunjungan ini adalah (1) penyuluh pertanian memiliki rencana kerja dalam setahun, (2) penyuluh pertanian mengunjungi petani secara teratur dan terjadwal, (3) penyuluh pertanian cepat dan tanggap mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di petani dan cepat memecahkannya, (4) penyuluh pertanian secara teratur mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilannya, (5) penyuluhan dilakukan dengan pendekatan kelompok, (6) penyelenggaraan penyuluhan pertanian mendapatkan supervisi dan pengawasan secara teratur. Namun dalam pelaksanaan sistem laku juga menghadapi beberapa kesulitan yaitu (1) tidak semua pelaku yang terlibat dalam sistem laku bekerja untuk kebutuhan sasaran penyuluhan pertanian, (2)publikasi hasil penelitian cenderung pada publikasi promosi bukan ilmu terapan yang dibutuhkan petani, (3) penyuluh cenderung dianggap rendah karena bekerja bersama petani, (4) penyusunan program cenderung dikendalikan oleh pusat, (5) laku tidak efektif untuk daerah terpencil, dan (6) perlu biaya cukup tinggi untuk transportasi dan pelatihan yang teratur.
Berikan Reaksi Anda
Bagikan Berita
Kategori
Umum
0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar
Mohon masukkan nama Anda.
Mohon masukkan email yang valid.
Mohon tulis komentar Anda.