Prolapsus uteri adalah penonjolan uterus dari vulva dengan permukaan mukosa berwarna merah, kadang nekrosis jika tidak ditangani segera dan terkontaminasi kotoran (Kumar, 2015). Prolapsus uteri telah tercatat pada semua spesies hewan, Hal ini dianggap sebagai kondisi darurat dan harus ditangani sebelum terjadi trauma mukosa, kontaminasi dan perdarahan fatal. Keparahan prolapsus uteri dibedakan dalam beberapa tingkatan yaitu tingkatan 1, 2 dan 3. Prolapsus uteri tingkat 1, mukosa vagina keluar dari vulva saat hewan berbaring sedangkan pada saat berdiri tidak terlihat. Prolapsus uteri tingkat 2, mukosa vagina terlihat saat ternak berdiri namun serviks belum terlihat, dan prolapsus uteri tingkat 3, serviks dan vagina terlihat menggantung di vulva (Bhattacharyya et al., 2012). Berbagai predisposisi menyebabkan prolaps uterus pada sapi, yaitu hypocalcaemia, distokia berkepanjangan, besarnya fetus, penyakit kronis dan paresis. Penyebab prolapsus uteri yaitu karena ternak bunting yang selalu dikandangkan, kurangnya exercise menyebabkan otot penggantung uterus tidak elastis dan kondisi tempat ternak saat partus kurang baik dimana bagian belakang lebih rendah dari permukaan tanah daripada bagian depan. Penyebab lain terjadinya prolapsus uteri yang umumnya terjadi setelah kelahiran yaitu inkoordinasi kontraksi peristaltik dimana perejanan yang kuat dan kontraksi pada abdomen dan tendon diafragma yang berlangsung terus menurus meski janin sudah keluar. Prolapsus uterus juga terjadi karena keadaan ligament penggantung uterus yang lemah (Parmer et al., 2016). Penanganan dan pengobatan Tujuan dari penanganan kasus prolaps uteri adalah untuk melakukan reposisi yang tepat dan mencegah infeksi sekunder seperti endometritis. Penanganan ini akan efektif untuk kesembuhan jika ditangani dengan cepat. Penanganan dapat dilakukan ketika terjadi prolaps uteri pada induk sapi harus dalam posisi berdiri kemudian uterus disejajarkan dengan vulva hingga bantuan datang. Anestesi epidural dalam dosis yang cukup sangat penting untuk mematirasakan daerah perineal dan mempertahankan hewan tetap berdiri, dan mencegah defekasi selama penanganan prolaps berlangsung. Apabila induk sapi dalam keadaan terbaring maka dapat dipaksa untuk posisi berdiri dengan menusuk memakai benda atau memberi rangsangan listrik dengan hoe, melipat ekor, ataupun mengangkat bagian bawah hewan secara mekanik. (Siswanto dan Era, 2014). Prolapsus uteri kronis biasanya ditangani dengan menggunakan teknik jahitan pada vulva dengan metode simple interrupted. Anestesi epidural digunakan dalam penanganan ini. Teknik jahitan simple interrupted, Massa prolapsus dibersihkan secara menyeluruh dengan larutan saline, lakukan anastesi epidural (os coccygeal vertebrae 1 dan 2) dengan lidocaine hidrocholida 2 %, hewan direstrain sebelum dilakukan tindakan, lapisan membran fetus dipisahkan terlebih dahulu dan massa uterus dicuci dengan larutan antiseptik. Massa uterus dimasukkan kedalam rongga abdomen dan dilakukan penjahitan dengan metode simple interrupted, jahitan kemudian dibuka setelah 7 – 10 hari. (Dey et al., 2017). Penanganan yang dilakukan pada kasus prolapsus uteri yaitu jika indukan pada saat berdiri dengan massa uterus yang menggantung, dilakukan anastesi epidural dengan lidocaine hcl 2%, selain itu diberikan terapi cairan berupa ringer lactat. Plasenta dilepaskan dengan lembut kemudian massa uterus dicuci dengan larutan antiseptik. Kemudian secara hati-hati massa uterus direposisi ke dalam rongga abomen kemudian dilakukan penjahitan vulva dengan teknik modifikasi buhner suture. Untuk memaksimalkan perawatan maka jahitan dilepas pada hari ketujuh atau hari kesepuluh (Dey et al., 2017)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!